MY FOTO

MY FOTO
RONALDI. S.Pd

Selasa, 05 Oktober 2010

Selintas tentang Penjas.

SELINTAS GAMBARAN TENTANG PENJAS
Oleh :Ronaldi,S.Pd. SMP N 2 Bukittinggi
Disimpulkan dari Perkuliahan Sertifikasi Jalur Pendidikan FPOK UPI Bandung.


Secara tradisional, program pengajaran pendidikan jasmani digambarkan sebagai lantai dasar dari sebuah segitiga sama kaki, atau yang sering disebut sebagai bentuk Piramid. Tepat di atasnya terdapat program olahraga rekreasi, atau lajim pula disebut program klub olahraga. Sedangkan di puncak segitiga terletak program olahraga prestasi.
Program pengajaran pendidikan jasmani adalah tempat untuk mengajarkan keterampilan, strategi, konsep-konsep, serta pengetahuan esensial yang berkaitan dengan hubungan antara kegiatan fisik dengan perkembangan fisik, otot dan syaraf, kognitif, sosial serta emosional anak. Ini berarti bahwa program pendidikan jasmani yang baik bertindak sebagai dasar yang kokoh dan solid untuk seluruh program olahraga dan aktivitas fisik di sekolah dan masyarakat.
Kebanyakan Penjas diajarkan guru dengan format pelatihan (sport-based), dengan tugas-tugas ajar yang lebih sering tidak memperhatikan asas Developmentally Appropriate Practice (DAP)/Pembiasaan positif. Guru secara sengaja meredusir nilai otentik Penjas yang idealnya mampu menjadi wahana pengembangan nilai-nilai kepribadian yang berasaskan nilai-nilai luhur keolahragaan, digantikan oleh landasan nilai kompetisi dangkal yang lebih menekankan kemenangan. Dan yang lebih memprihatinkan, guru-guru pun menjadi lupa dengan upaya mengangkat Ciri Unik Penjas yang seharusnya menjadi milestone “Peletakan Batu Pertama” dalam mengembangkan kebugaran jasmani, keterampilan fisik dan motorik, serta penanaman konsep dan prinsip gerak kepada anak.

Dengan kondisi tersebut, tidak pelak, penjas di sekolah-sekolah pun diubah paradigmanya, bukan lagi sebagai alat pendidikan, melainkan dipertajam menjadi alat untuk membantu “gerakan olahraga” sebagai alat penegak postur bangsa. Alasannya jelas, yaitu agar lebih banyak lagi bibit-bibit atlet yang bisa dipersiapkan. Akibatnya, seperti yang dapat kita saksikan sekarang, Penjas kita lebih bernuansa pelatihan olahraga,yang seharusnya dilakukan didalam extra-kurikuler, daripada sebagai proses sosialisasi dan mendidik anak melalui olahraga.

Demikian kuatnya paradigma pelatihan olahraga dalam Penjas kita, sehingga dewasa ini paradigma tersebut masih kuat digenggam oleh para guru Penjas. Dengan paradigma yang salah tersebut, program olahraga dalam pelajaran pendidikan jasmani lebih menekankan pada harapan agar program tersebut berakhir pada terpetiknya manfaat pembibitan usia dini. Dalam kondisi demikian, pembelajaran yang seharusnya bersifat pengasuhan dan pembiasaan positif itupun sering berubah menjadi aktivitas yang dalam kategori Sue Bredekamp (1993) merupakan program yang Developmentally Inappropriate Practice (DIP)/kebiasaan perkembangan yang tidak baik, padahal yang seharusnya berlangsung adalah program yang Developmentally Appropriate Practice (DAP).
Sebagai konsekuensinya, ruang lingkup pendidikan jasmani menjadi menyempit; seolah-olah terbatas pada program memperkenalkan anak pada cabang-cabang olahraga formal, seperti olahraga permainan, senam, atletik, renang, serta beladiri. Akibat lanjutannya, aktivitas jasmani yang tidak termasuk ke dalam kelompok olahraga (sport) mulai menghilang, di antaranya adalah tarian, gerak-gerak dasar fundamental, serta berbagai permainan sederhana yang sering dikelompokkan sebagai low-organized games.

Dalam lingkup mikro pembelajaran, bahkan terjadi juga pergeseran cara dan gaya mengajar guru, yaitu dari cara dan model pengasuhan serta pengembangan nilai-nilai yang diperlukan sebagai penanaman rasa cinta gerak dalam ajang sosialisasi, berubah menjadi pola penggemblengan fisik dan menjadikan anak terampil berolahraga. Akibatnya, guru lebih berkonsentrasi pada pengajaran teknik dasar dari cabang olahraga yang diajarkan (pendekatan teknis), sambil melupakan pentingnya mengangkat suasana bermain yang bisa menarik minat mayoritas anak (Light, 2004). Wajar jika guru melupakan premis dasar penjas bahwa penjas adalah untuk semua anak (Dauer and Pangrazy, 12th Ed. 2003), tetapi biasanya lebih mementingkan anak-anak yang berbakat. Hal ini diperparah oleh tiadanya perlengkapan dan peralatan yang memungkinkan terjadinya penguasaan teknik dasar (keterampilan) yang memadai agar anak mampu menguasai sekaligus memahami apa yang dipelajarinya.

Hal lain yang juga turut terimbas oleh paradigma tadi adalah menghilangnya suasana pedagogis dalam pembelajaran Penjas. Penjas yang seharusnya menjadi wahana yang strategis untuk mengembangkan self esteem anak, pada gilirannya justru berubah menjadi ‘ladang pembantaian’ kepercayaan diri anak. Dalam banyak proses pembelajaran, anak akan lebih banyak merasakan pengalaman gagal daripada pengalaman berhasil (feeling of success).
Sudah bukan rahasia bahwa kelemahan program penjas di Indonesia selama ini adalah masih mengakar pada kuatnya paradigma keolahragaan di sekolah. Guru-guru penjas kurang memahami perbedaan filosofis antara pendidikan jasmani dan pendidikan olahraga, sejak kedua istilah itu dipertukarkan pada kurikulum tahun 1984. Para guru menganggap bahwa perubahan nama sekadar perubahan trend. Padahal, muatan filosofis dari keduanya sungguh jauh berbeda sehingga arah tujuannya pun berbeda pula.
Pendidikan jasmani berarti program pendidikan melalui gerak, permainan, dan olahraga. Di dalamnya terkandung arti bahwa gerakan, permainan, atau cabang olahraga tertentu yang dipilih hanyalah sebagai alat untuk mendidik dan meningkatkan keterampilan: keterampilan fisik dan motorik, keterampilan berpikir dan memecahkan masalah, termasuk keterampilan emosional dan sosial. Oleh karena itu, seluruh adegan pembelajaran dalam mempelajari gerak dan olahraga lebih penting daripada hasilnya. Bagaimana guru memilih metode, melibatkan anak, berinteraksi dengan murid serta merangsang interaksi murid dengan murid lainnya harus menjadi pertimbangan utama.
Di seberang yang lain, pendidikan olahraga adalah pendidikan yang membina anak agar menguasai cabang-cabang olahraga. Kepada murid diperkenalkan berbagai cabang olahraga agar mereka menguasainya. Yang ditekankan adalah "hasil" dari pembelajaran itu, sehingga metode pengajaran serta bagaimana anak menjalani pembelajarannya didikte oleh tujuan yang ingin dicapai.
Dalam perbedaan nuansa di atas, yang terasa nyata adalah pendidikan olahraga memiliki premis yang berbeda dengan pendidikan jasmani. Penjas bersifat inklusif dan melibatkan semua anak dalam seluruh adegan pembelajaran. Dalam pendidikan olahraga-karena orientasinya ditekankan pada keterampilan formal dari cabang olahraganya-proses pembelajaran lebih bercorak eksklusif dengan hanya memberi tempat kepada yang berbakat, serta menyisihkan yang tidak berminat dan kurang mampu.
Sebagai contoh di Indonesia, sirkus tampaknya tidak berkembang karena kurang penekunnya. Walaupun masyarakat Indonesia cukup menggemari pertunjukan ini, Penulis menduga, kurang berhasilnya program Penjas di Indonesia bisa ditunjuk sebagai salah satu penyebab mengapa sirkus dan beberapa aktivitas seni gerak dan olahraga kurang berkembang di negara kita. Artinya, masyarakat kita tidak memiliki perbendaharaan (repertoire) gerak yang dapat ditekuni di masa-masa dewasanya, karena Penjas kita pun belum berhasil membangun dan menumbuhkan kreativitas para siswa dalam hal gerak. Guru penjas kita belum berhasil merangsang kemampuan mencipta dari siswanya, peralatannya terlalu bertumpu pada keharusan mengembangkan kemampuan reproduksi.Pengajaran pada berbagai cabang olah raga formal seperti sepak bola, voli, renang, basket, dsb. dalam cara dan gaya yang formal, menyebabkan anak hanya dilatih kemampuan reproduksinya (meniru yang sudah ada). Akibatnya, anak tidak memiliki keberanian untuk mencoba hal baru, apalagi tumbuh keinginannya untuk mencipta.
Mudah-mudahaan tulisan ini dapat merubah paradigma kita tentang Penjas, semoga berhasil membangun dan menumbuhkan kreativitas para siswa dalam hal gerak. Guru Penjas diharapkan bisa merangsang kemampuan mencipta siswanya,baik dari segi gerak maupun kemampuan kognitifnya seperti berani bertanya,atau memberikan usul atau idenya.Guru Penjas diharapkan bisa kreatif mengembangkan peralatanya,serta mengembangkan bentuk-bentuk permainan yang mengarah kepada gerak dasar fundamental cabang Olahraga.Jangan terlalu bertumpu pada keharusan mengembangkan kemampuan teknik pada berbagai cabang olah raga formal seperti Sepak Bola, Voli, Renang, Basket, dsb.Smoga sukses slalu ,Trims..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar